Jejak Cita – Citaku
Oleh : Nurul Aini S. M
Nurul Aini S.M, itulah namaku. Sewaktu aku duduk di bangku SD (kira-kira kelas 3), guruku sering bertanya kepada semua muridnya satu per satu.
“anak – anak….jika kalian sudah besar nanti, ingin menjadi apa?” tanya guruku sekaligus wali kelasku.
Hampir 80% jawabannya adalah ada yang ingin menjadi Guru, Pilot, Polisi, Dokter, dan Arsitek .
Ketika giliran diriku mendapat pertanyaan, aku menjawab jika sudah besar nanti ingin menjadi Arsitek. Karena, teman–temanku selalu memujiku bahwa aku pintar menggambar dan mewarnai. Guru- guru pun salut atas kreasi-kreasi buatanku serta gambar-gambar yang telah aku buat. Dan semenjak itulah aku bercita - cita untuk menjadi Arsitek.
Sewaktu aku kelas 4 SD, aku sering mengikuti lomba cerdas–cermat Bahasa Inggris tingkat SD di SMA Fatahillah Cilegon dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya. Sampai aku kelas 6 SD pun aku masih sering di panggil untuk mengikuti lomba tersebut.
Aku suka dengan pelajaran Bahasa Inggris. Karena di setiap pelajaran tersebut teman-temanku selalu bertanya kepadaku tentang pelajaran yang di bahas .
Namun, ketika di akhir-akhir sebelum Ujian Nasional, aku pernah di suruh menulis soal matematika sekaligus jawabannya di papan tulis. Ketika aku menulisnya, aku melihat bahwa ada jawaban yang salah. Akhirnya aku beri tahu kepada guruku bahwa jawaban tersebut menurutku salah. Dan akhirnya aku pun yang harus membenarkan dan memperbaiki jawaban yang salah tersebut.
“wah…pintar kamu Aini ! jawabannya baru benar ini. Memang cocok kamu jadi guru matematika” sahut guruku.
Hmmmm….lagi–lagi aku terhasut dengan ucapan guruku. Semenjak itu pula aku ingin menjadi guru matematika jika sudah besar nanti.
Ketika aku duduk di bangku SMP, aku sering membuat cerpen perjalanan hidupku dalam sebuah buku diary. Namun terkadang aku pun membuatnya dalam bentuk puisi.
Semenjak itu, entah mengapa aku tergiur untuk menjadi penulis yang handal dan terkenal di Indonesia. Tapi itu semua tidak membuatku untuk mengubah cita-citaku sebagai guru matematika.
“lebih baik menjadi seorang penulis itu kerja sampingan aku saja. Jadi,,,, selain aku menjadi guru matematika, akupun bisa menjadi seorang penulis. Dan jika aku makin pandai berbahasa inggris, aku bisa kerja di Qatar seperti tetanggaku” ucapku dalam hati.
Akhirnya, aku bercerita ke pada mama bahwa aku ingin menjadi guru matematika jika sudah besar nanti.
“Aini, teteh kamu sudah menjadi guru matematika. Masa kamu ingin jadi guru juga? mama bukannya tidak ingin kamu jadi guru, tapi kalau bisa mama inginnya kamu jadi perawat saja. Seperti tante kamu itu. Perawat juga tidak kalah bagusnya kok sama guru” ucap mamaku.
Aku berpikir, apa yang di katakan mama itu benar. Lagian juga aku ini tidak terlalu pandai dalam pelajaran matematika. Bahkan menurutku “masih kurang” sekali.
Aku merasa ketika mama masih muda dulu, mama ingin menjadi seorang perawat. Namun nyatanya sekarang, mama hanyalah menjadi ibu rumah tangga saja.
Dari situ…. aku mempunyai niat untuk membahagiakan mama. Dan salah satu caranya adalah aku harus bisa menjadi seorang perawat dan mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan .
Nurul Aini S.M, S.Kep . hmmm…. unik juga ya. Ya !! aku harus bisa mendapatkan gelar Keperawatan tersebut, dan menjadi seorang perawat di salah satu rumah sakit terbaik.
“jangan mengerjakan apa yang kamu cintai, namun cintailah apa yang kamu kerjakan”
Kata–kata tersebut membuat aku semakin optimis dan PD untuk menjadi seorang perawat. Terlebih keluargaku mendukung sekali agar aku menjadi seorang perawat.
Namun, ketika aku duduk di kelas X SMA dan aku mengikuti psikotes yang telah di selenggarakan oleh sekolah, impianku untuk membahagiakan mama dengan cara aku menjadi seorang perawat MUSNAH begitu saja !! karena hasil psikotes menunjukkan bahwa aku pantasnya masuk jurusan IPS.
Aku sedih…..aku kecewa….. aku merasa impianku untuk membahagiakan mama sudah tidak bisa lagi. Aku merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk menjadi seorang perawat yang bisa membahagiakan mama.
Aku terus berdoa dan memohon ke pada Allah agar aku bisa masuk jurusan IPA. Karena jika aku sudah masuk jurusan IPA, untuk menjadi perawat pun aku sudah mendapatkan salah satu kemudahannya, yaitu jurusan IPA.
Syukurnya, untuk menentukan pantas atau tidaknya masuk jurusan IPA atau IPS itu tidak hanya di tentukan dari hasil psikotes saja. Namun di tentukan juga dari guru dan hasil-hasil pelajaran di sekolah.
Dengan mengucap Alhamdulillah, aku masuk jurusan IPA. Dan sekarang aku duduk di kelas XI IPA 1. kelas unggulan di antara IPA 2 dan IPA 3. namun aku tak mempermasalahkan kelas unggulan atau tidaknya. Yang penting bagiku, aku senang karena Allah mengabulkan doaku dan aku pun masih ada harapan untuk membahagiakan mama.
Sekarang, aku benar–benar sudah menentukan cita-citaku buat masa depan, yaitu sebagai seorang perawat. Bukan karena hanya ingin membahagiakan mama, tetapi juga karena aku senang berprofesi sebagai perawat. Aku pun sudah melupakan angan-anganku untuk menjadi guru matematika. Tapi, untuk menjadi seorang penulis, aku tetap mempertahankannya sebagai pekerjaan sampingan,. Yaaa….walaw hanya penulis kecil-kecilan tapi enggak masalah lah….ckckckck.
Kakekku pernah berkata
“Aini, kalau kamu ingin jadi perawat
1. kamu harus ikhlas
2. kamu juga tidak boleh jijian
3. kamu harus mampu merawat pasien-pasien kamu.
4. kamu harus bisa berkata lembut dan ramah kepada pasien-pasien kamu
5. kamu pun harus sabar
6. dan kamu harus bisa mengatur waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.
Perawat itu ada kerja siang, pagi, dan malam. Jadi, pandai-pandailah kamu
mengatur waktu. Serta terakhir,
7. Kamu harus bisa bertanggung jawab atas pekerjaan kamu.
Perawat itu pekerjaan bagus kok…. walaw resikonya cukup berat, tapi kamu juga bisa sekalian beramal. Kamu senyum kepada pasien, kamu lembut kepada pasien, kamu merawat pasien dengan sabar, itu semua termasuk beramal. Jad….sekalian kamu bekerja, kamu pun bisa mendapatkan pahalanya”
Nasihat-nasihat kakek membuat aku semakin maju untuk menjadi seorang perawat. semakin berat tantangannya semakin semangat aku untuk menghadapinya.
Dan sekarang, aku akan terus berusaha serta berdoa agar cita-citaku mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan dan menjadi seorang perawat dapat tercapai dan terkabul. Amin…
Dan satu lagi, yang dapat kita petik dari cerpen “Jejak Cita-citaku” ini adalah, bahwa sesungguhnya hidup itu harus ada tujuannya. Kita harus mempersiapkan cita-cita kita dari sekarang untuk masa depan kita yang cerah.,,ok ?!
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar